Menabung di BPR

Menabung di BPR? Kenapa tidak? Beberapa orang terutama mereka yang “katanya” melek finansial terkadang memandang sebelah mata BPR. Suatu ketika di sebuah forum diskusi perencanaan keuangan, beberapa member “mengeroyok” diriku hehe. Rata-rata mereka skeptis dengan BPR. Ada untungnya juga sebenarnya, setidaknya menambah wawasan tentang kekurangan BPR.

BPR yang adalah akronim dari Bank Perkreditan Rakyat merupakan salah satu spesies bank. Sesuai namanya, bank ini spesialis memberikan pinjaman atau kredit. Berbeda dengan bank umum, syarat pengajuan kredit di BPR lebih mudah. Tapi tentu saja suku bunga yang diberikan lebih besar. Saking mudahnya mengajukan kredit, BPR sering disamakan dengan koperasi simpan pinjam. Padahal cara kerjanya jelas-jelas berbeda.
Walapun BPR fokus ke pemberian kredit atau pinjaman bukan berarti kita tidak bisa menabung di sana. Ini dikarenakan BPR harus menghimpun dana sebagai sumber pinjaman kepada nasabah. Tentu saja, dana tabungan ini diberi imbal balik berupa bunga yang sangat kompetitif. Bunga tabungan di BPR ini diperoleh dari bunga kredit, jadi beberapa orang memandangnya riba dan haram. Kalau menurut aku sih itu pilihan pilihan pribadi ya.

Aku sendiri memiliki tabungan di BPR. Aku berani menabung di BPR tentu dengan bekal informasi yang cukup. Nah ini dia informasi yang akan aku bagikan.

Keuntungan menabung di BPR
  1. Mudah diakses. BPR mudah sekali ditemukan.
  2. Bunga kompetitif biasanya lebih tinggi dibandingkan bank umum / konvensional.
  3. Biaya administrasi rendah bahkan kadang gratis.
  4. Menerima uang recehan.
  5. Fasilitas jemput bola, dimana ada petugas yang siap datang untuk mengambil tabungan di rumah.
  6. Bonus dan hadiah menarik. Beberapa BPR sering mengadakan program-program menabung yang unik dan bahkan memberi parcel lebaran untuk pelanggan.

Dari keuntungan di atas, BPR cocok untuk anak-anak yang belajar menabung, mahasiswa, ibu rumah tangga dan kalangan ekonomi menengah ke bawah. Namun demikian BPR juga memiliki kekurangan.

Kekurangan menabung di BPR
  1. Rentan kecurangan petugas jemput bola.
  2. Bank nakal sehingga tabungan tidak dijamin LPS.
  3. Bank kadang bersifat lokal atau jaringannya sedikit.
  4. Tidak memiliki ATM dan e-banking. Kalaupun ada sangat jarang sekali
Tidak adanya ATM dan e-banking malah menjadi salah satu alasan aku buat membuka tabungan di BPR. Selama ini tabungan di bank konvensional yang isinya recehan hasil jadi kuli selalu habis untuk belanja online. Hehe. Bukan berarti aku menutup tabungan konvensional lho. Dengan pertimbangan harus ada tabungan yang mudah diambil untuk keperluan mendadak aku masih mempertahankan tabungan konvensional dengan saldo sekitar Rp 5.000.000. Kok sedikit? Maklum masih tanggungan orang tua selain itu aku masukin deposito kok biar bisa mengendalikan sifat hedonis hehe.
Untuk meminimalisir resiko menabung di BPR berikut ada sedikit tips.

Tips menabung di BPR
  1. Selalu cek suku bunga yang dijamin LPS (bisa dilihat online di LPS) dan bandingkan dengan bunga BPR kalian. Jika lebih tinggi dari LPS jangan tergiur karena ketika bank bermasalah maka dana kita nggak terjamin.
  2. Selalu cek saldo tabungan setelah menabung terutama jika pakai sistem jemput bola. Pastikan sesuai dengan jumlah yang kalian tabung. Ini juga salah satu syarat agar dana dapat dijamin LPS.
  3. Gunakan layanan jemput bola seperlunya saja untuk meminimalisir kecurangan dari petugas.
  4. Jangan menaruh seluruh uang di satu bank (BPR) saja.
Maka dari itu tabunganku di BPR seperti numpang lewat. Tujuanku menabung di BPR hanya agar recehan yang aku kumpulkan tidak lenyap entah karena aku gunakan untuk jajan atau digilas biaya administrasi bank. Itu sebabnya ketika target tabungan di BPR sudah tercapai sekitar Rp 3.000.000, aku segera pindahkan ke deposito bank konvensional.
Selamat menabung.
Sumber : http://cepek-ceng.blogspot.com/2014/10/menabung-di-bpr.html